APAKAH SEDRAMATIS ITU ??

Halo.. dimanapun anda bernafas, asalkan gak di depan pantat orang. Jaga-jaga kalau dia tiba-tiba kentut. Awalnya gw mau cerita langsung, berhubung pulsa modem gw habis dan warnet banyak yang gak buka, jadi mau gw tulis sekarang. Mumpung ada Wi-Fi gratisan di depan balai desa. Ehm..

ceritanya, saat hari minggu tepatnya tanggal 1 maret 2015 pukul tiga sore menit ke lima dan detik ke lupa, gw pergi ke dokter untuk memeriksakan apa yang ada di pipi bawah mata gw ini. Bentuknya bulat seperti jerawat tetapi bukan jerawat,. Bentuknya seperti bakso. Mungkin saat gw makan bakso, baksonya bukan masuk ke kerongkongan tapi ke pipi (bakso yang salah alamat). Di perjalanan gw sudah mengira-ngira sendiri tentang penyakit ini. Mulai penyakit yang parah, seprti: Kanker kulit, tumor, kutil, DLL. Sampai yang paling gak masuk akal banget, seperti: penyakit jantung (sumpah, gak ada hubungannya), pilek, flu, sampai penyakit kejiwaan. Sesampainya di RS, gw langsung masuk ke ruangannya dokter. Dokter itu pun menanyai gw.

'Ada keluhan??' tanya Si dokter.

'Ada dok' gw menjawab.

'Apa?' 

'hutang saya sama dia belum dibayar' menjawab dengan wajah tanpa masalah dan dosa. Sumpah ini jawaban yang tidak masuk akal banget yang pernah gw ucapkan. 

'maksudnya penyakitnya?'

'ini dok' sambil menunjuk ke pipi. 

'penyakit apa ini??' sambil menunjuk pipi gw.

'mana tau dok, saya kesini untuk menanyakan penyakit apa ini. Kok malah dokter yang nanya' sewot gw.

Setelah percakapan tidak bermutu itu selesai, akhirnya dokter menyatakan bahwa itu adalah jerawat yang terjebak, dan tidak bisa keluar kecuali di operasi kecil.  

'mm... ini harus di operasi.. ' sambil memegang megang pipi gw.

'hah?? operasi dok?!' seru gw.

'iyya.. gapapa kok, cuman operasi kecil' 

'apakah gak ada cara lain. Di pencet-pencet lah, di raba-raba lah, lalu di terawang' 

'kalau dipencet, bisa-bisa tambah gede'

'apanya dok?? rumah sakitnya?' 

Hening.

'ini kalau tidak segera di operasi, bisa-bisa tambah gede'

'apakah harus sekarang dok?' sambil nelen ludah.

Setelah itu dokter melihat kalender dan berbicara ke gw.

'hari selasa saja, pukul 8 malam datang ke rumah saya saja' ucap dokter.

Setelah itu, gw pulang dan memikirkan 'bagaimana hari selasa nanti?'. Setelah itu gw menjalani hidup seperti manusia normal lainnya. Bernafas masih dengan hidung bukan pakai pantat, melihat juga pakai mata bukan pakai kuping, dan makan pakai mulut sendiri bukan mulut orang lain. Setelah itu, tepat hari selasa tanggal 3 maret 2015 jam delapan, gw sengaja dateng lima belas menit sebelumnya untuk mengumpulkan nyawa agar tidak mati ditengah tengah operasi. Dokter pun menanyai gw.
'sudah siap?'

'sudah!' sambil nelen ludah.

'oke lah silahkan tidur disini' sambil menunjuk kearah tempat tidur. 

Gw pun tiduran di tempat tidur dan si dokter sibuk menyiapkan alat-alat untuk operasi. Sekali lagi, gw nelen ludah. Dokter memulai operasi ini. Operasi lamanya sekitar satu jam lebih. Dan saat akan di suntik bius, gw teriak duluan.

'AAWWWW!!' teriak gw.

'kenapa?' tanya dokter.

'gak papa dok, cuma pingin aja teriak. Biar nanti gak teriak lagi kalau di suntik'  

Dokter yang di dampingi asistennya pun menyuntikkan obat bius ke pipi gw, gw pun gak bisa teriak karena jatah teriak gw sudah di pakai sebelum suntik tadi. Sekali lagi, gw nelen ludah, sangking banyaknya nelen ludah sampai-sampai perut gw kembung di penuhi air liur. Setelah menyuntik gw, dokter pun berlahan menyayat penyakit yang ada di pipi gw. Gw pun tegang. Di tengah tengah operasi kecill ini, gw tiba-tiba kentut dan operasi kecil ini dihentikan sejenak sampai gas beracun yang gw keluarkan habis. Dokter pun melanjutkannya. Saat operasii kecil ini, gw tegang dan gw berfikiran gw akan mati. Satu jam kemudian perban ditempel di pipi gw dan operasi kecil ini sukses dan gw masih tegang dan perut masih kembung. Gw pun berkata kepada dokter 'terima kasih dok atas penyiksaan ini'. Dokter pun menjawab 'sama-sama atas kentutnya tadi'.

Hari pertama sekolah setelah operasi kecil ini, banyak yang menanyai tentang perban yang ada di pipi gw. Mulai yang kenal sampai yang gak kenal (mungkin orangnya sok kenal). Semua orang yang menanyai gw pertanyaannya selalu sama "kenapa itu?" dan gw menjawabnya berbeda-beda. Ada yang "di begal", ada juga yang gak masuk akal seperti "kenak tilang polisi", ada juga yang menyeramkan "kena pisau orang jual daging di pasar" dan "dibakar masa", ada juga yang gw jawab "gapapa". Alasan gw menjawab dengan jawaban berbeda-beda karena gw takut kalau orang yang menanyai gw tidak percaya kalau gw di operasi kecil. Dan setelah itu, gw menjalani hidup normal seperti mamalia lainnya dengan perban di pipi. 

Pesan moral: "check your internet connection" (pakai bahasa inggris biar keren).